Diantara berita-berita protes menolak kedatangan pak Bush ke Bogor, gw jadi inget sebuah lagu masa kecil gw dulu, lagu jawa, kira2 gini ( ya mendekatilah, banyak kata yang gw lupa, jadi maap kalo ada yang salah, yang penting artinya sama ) :
e dayohe teko
e gelarno kloso
e klosone bedah
e tambalen jadah
e jadahe mambu
e paka'no asu
e asune mati
e buangen kali
e kaline banjir
... ( maap lupa terusannya... hehe )
terjemahan bebas indonesianya :
lihat tamu sudah datang
gelarlah tikar
tikarnya robek
tamballah dengan juadah
juadahnya bau
jadikan makanan anjing
anjingnya mati
buanglah ke sungai
sungainya banjir
...
sebagai anak-anak yang suka sembarangan nyanyi dan mengubah lagu 'on the fly', lagu ini bisa berubah susunan kalimat dengan berbagai kombinasi, sekaligus arti, contohnya :
e dayohe teko
e paka'no asu
( lihat tamu sudah datang
jadikan makanan anjing )
atau
e dayohe teko
e tambalen jadah
( lihat tamu sudah datang
tamballah dengan juadah )
dst..
Yang jelas artinya sudah berubah extrim dari yang tadinya menggambarkan keramahan menjadi ketidak sopanan terhadap tamu yang datang berkunjung ..
Sekarang gw jadi berpikir, apakah bangsa kita memang sedemikian kekanakannya dan tidak dewasa, hingga harus bersikap keras dan menolak tamu yang dianggap sudah berbuat jahat terhadap 'teman' bangsa ini ? Gw rasa konyol sekali, kok kaya anak2 abg, yang dengan gampang bilang 'gak solider' kalo salah seorang anggota geng kita ketahuan ngobrol dengan anggota geng lain yang ceritanya lagi musuhan.
Intinya gw merasa aneh waktu liat di tv, ormas2 islam menolak kunjungan bush dengan kata2 : 'menolak kunjungan bush, dan meminta dpr untuk menolak dan membatalkan kunjungan tersebut, karena bush telah berbuat jahat terhadap islam'
wait a second .. Gw tau bush memang sedikit banyak menyalahkan kaum fundamentalis timur, yang majoritas muslim, cuma apa hubungannya dengan kita ? Terlebih dengan kenyataan bangsa kita yang sangat plural ini, knapa tiba2 harus mengikuti jalan pikiran segelintir manusia yang mengatasnamakan bangsa padahal hanya menyentuh kepentingan semu sekelompok manusia yang gak jelas juntrungannya juga .. Ngurus negri sendiri, bersihin sampah di negri sendiri aja gak becus, kok udah akal2 mau bantuin negara lain.. Negri ini penuh dengan paradox, krisis identitas akut dan yang paling mengerikan adalah paranoia existensial, yang membuat prioritas jadi jungkir balik karena kepentingan2 yang berlawanan bahkan di level individual. Ruwet, bukan karena hidup ini memang ruwet, tapi manusia2 indonesia ini memang cenderung berpikir ruwet :P ( mulut gw juga jadi ruwet kalo ngomong yang barusan ... heheh )

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home